Tag Archives: Toraja

Tampanggallo, kuburan para bangsawan

19 Apr

Yang berhubungan dengan bangsawan tidak selalu berhubungan dengan yang mewah-mewah.  Apalagi untuk peristirahatan terakhir (baca : kuburan), terutama untuk rakyat Toraja.

Di Tampanggallo, salah satu daerah di Tana Toraja kita bisa melihat  bagaimana warga – warga keturunan bangsawan ini dikubur.

Dan seperti lokasi wisata kebanyakan di Toraja sebelumnya, untuk mencapai daerah ini kita harus melalui jalanan perkampungan dengan jalan yang belum diaspal, disini juga sama, tetapi di lokasi ini, setelah mobil diparkir kita masih harus berjalan kaki lagi menyusuri pematang sawah. Dan lebih kurang sekitar 300m dari parkiran kita akan sampai di sebuah goa.

Goanya lumayan besar dibawah kaki bukit kecil dengan beberapa stalagmit. Sebelumnya gw hanya berpikir ini hanya sebuah goa biasa dimana kita hanya disuguhkan oleh bentukan batu alam dari tetesan air berupa stalagtit dan stalagmit itu, ternyata hanya beberapa langkah dari mulut goa bagi yang tidak terbiasa melihat tengkorak pasti akan kaget, karena banyak sekali tengkorak-tengkorak manusia baik itu kepala, tungkai-tungkai kaki maupun tangan dan lainnya. Sebenarnya mayat-mayat ini sebelumnya berada di peti matinya yang disebut erong-tempat mayat para bangsawan. Tetapi jika erong itu rusak maka tengkorak-tengkoraknya akan dikeluarkan.

Erong itu sendiri juga disusun-susun di dinding-dinding goa dan untuk membedakan isi dari masing-masing erong itu, erong ini dilengkapi juga dengan tautau, semacam boneka dari kayu yang diukir menyerupai wajah dari bangsawan didalam erong itu.

Tampanggallo ini berjarak sekitar 1jam perjalan dari kota Rantepao dan tidak begitu jauh dari obyek baby grave sebelumnya. Tiket masuknya sekitar 5000/orang.

Iklan

Kuburan bayi di Toraja lebih unik

30 Mar

Setelah sebelumnya kita melihat kuburan masyarakat suku Toraja yang di bukit-bukit batu di Lemo, ternyata tidak semua umur di kubur di bukit batu itu.

Tidak begitu jauh dari Lemo sekitar setengah jam dengan medan perjalanannya juga lebih kurang sama dengan yang di Lemo, menyusuri kaki-kaki bukit kemudian masuk jalanan ke kampung-kampung, bertemulah kita dengan berderet-deret Tongkonan.

Kemudian tidak jauh dari deretan Tongkonan -rumah adat suku Toraja kita akan melihat plang nama bertuliskan Baby Grave atau Kuburan Bayi Kambira. Yop di Kambira, salah satu kampung lagi di Toraja Utara yang bisa melihat kuburan bayi suku Toraja.

Kenapa dibilang lebih unik? Senyampenya di areal pekuburan, gw sempat bertanya-tanya yang mana kuburannya, batu nisan tidak ada, dan disini juga tidak berupa lereng bukit hanya ada anak tangga dan pohon besar. Nach ya itu yang pohon besar kata guide gw.

Dan diteliti lebih jauh di pohon besar itu memang ada pintu-pintu yang sepertinya terbuat dari lapisan kulit pohon aren yang berbentuk segiempat. Dan menurut info yang pintu segiempat itulah pintu ke kuburan bayinya.

Jadi, anak-anak yang giginya masih berupa gigi susu jika meninggal maka akan dikubur didalam batang-batang pohon besar itu.

Di Kambira ini tiket masuknya hanya Rp5000/orang dan juga sudah disediakan lahan parkir untuk mobil yang mungkin maksimal hanya 5 mobil sedang dan juga sudah disediakan toilet, sehingga lumayan nyaman berkunjung kesini. Tetapi tetap hati-hati berjalan disini, karena jalanan licin. Dan disini juga sudah ada toko souvenir khas Toraja.

Melihat kuburan unik di Lemo, Toraja

26 Mar

Jika mendengar nama Toraja, semua orang pasti bakal terlintas dibenaknya kuburan-kuburan di lereng bukit batu. Yop, di Toraja mereka mempunyai kepercayaan dimana masih ada kehidupan setelah mati. Sehingga mereka akan mengadakan pesta sebesar2nya untuk mengantarkan seseorang yang telah  meninggal dunia ke keburannya.

Nach kuburan untuk yang meninggal dunia juga lain dari yang lain, kuburannya ada di lereng bukit dimana dinding bukit dibuat lobang yang bisa dimasukkan peti mati. Proses sebelum memasukkan peti mati inilah yang dipestakan besar-besaran oleh masyarakat Toraja. Karena pesta besar-besaran, maka tak heran jika jarak antara pesta dan waktunya yang meninggal dunia itu bisa jauh sekali sampe ada yang bertahun-tahun.

Nach, karena jika belum dipestakan si peti mati belum bisa dimasukkan ke lerangbukit, maka si peti mati dismpan dulu sementara di Tongkonan yang berkaki empat seperti di foto pertama sebelah kanan.

Dan nantinya di lereng bukit setelah peti mati dimasukkan di depan lobangnya akan dipasang patung ukiran dari kayu yang mirip dengan wajah yang meninggal dunia. Patung ini disebut juga Tau Tau oleh orang Toraja.

O iya, selain bisa melihat kuburan khas suku Toraja di lereng bukit, disini kita juga bisa melihat Tongkonan -rumah adat khas toraja – yang sudah berumur tua. Dan jika pengen mengoleksi souvenir khas toraja disini juga ada beberapa toko souvenir.

Tetapi yang uniknya tempat wisata Lemo ini, memang khas dengan tujuan wisata ke kampung khas Toraja asli. Lemo yang hanya 15 menit ditempuh perjalanan darat dari kota Rantepao ini berkhas kampung dengan jalan akses yang belum beraspal mulus tetapi hanya masih tanah yang dilapisi batu-batu sungai, kemudian kita serasa masuk ke kaki-kaki bukit dan bertemu desa ini. Tiket masuknyapun hanya Rp.5000

Pa’piong, makanan khas Toraja

17 Mar

Pa’piong merupakan makanan khas Toraja. Papiong berupa lauk pauk untuk pelengkap makan dengan nasi. Pa’piong ini berupa lauk pauk yang dimasak denga sayuran didalam bambu, dan dimasak dengan cara dibakar.
Adapun campuran sayurannya antara lain : daun bawang, serei, telor,merica, bawang putih dan bawang merah.
Biasanya ada beberap pilihan isi lauknya yaitu ayam, ikan dan babi.
Untuk rasa menurut gw seperti layaknya pepes – pepes khas Sunda.